Nilai Impor Hasil Industri dan Tambang Menurun

PENURUNAN: Periode Januari-Agustus 2025, nilai impor Provinsi Kaltara mengalami penurunan 10,48 persen.

TANJUNG SELOR – Nilai impor Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) pada periode Januari-Agustus 2025 tercatat mencapai USD 611,43 juta. Angka ini mengalami penurunan 10,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai USD 682,98 juta.

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara Mas’ud Rifai, penurunan impor ini terjadi karena menurunnya nilai impor hasil industri dan tambang.

“Nilai impor hasil industri turun 10,06 persen menjadi USD 609,19 juta. Sementara impor hasil tambang juga menurun hingga 54,89 persen menjadi USD 2,23 juta,” kata dia, Jumat (3/10).

Baca Juga  Penerbangan di 4 Bandara Meningkat

Namun secara bulanan, nilai impor Kaltara pada Agustus 2025 justru meningkat 17,69 persen dibandingkan Juli 2025 atau USD 80,21 juta menjadi USD 94,41 juta. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya impor barang industri dan logam dasar dari beberapa negara mitra dagang utama.

Dari sisi negara asal, Tiongkok masih menjadi mitra impor terbesar dengan nilai mencapai USD 80,61 juta pada Agustus 2025.

Baca Juga  Arus Peti Kemas Tumbuh 15 Persen

“Angka ini berkontribusi 80,61 persen terhadap total impor Kaltara. Disusul Vietnam dengan USD 6,07 juta (5,63 persen) dan Singapura USD 5,71 juta (9,89 persen). Secara kumulatif, tiga negara tersebut menyumbang 96,13 persen dari total impor Kaltara sepanjang Januari–Agustus 2025,” sebut dia.

Sementara berdasarkan jenis barang, impor terbesar berasal dari kategori mesin dan perlengkapan elektrik yang mencapai USD 24,70 juta atau meningkat 153,76 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga  Kaltara Harapan Baru Hilirisasi Industri IKN

“Barang tembaga dan baja juga mencatatkan kontribusi besar, disusul tembakau dipabrikasikan serta produk berbahan plastik,” terangnya.

Peningkatan impor produk industri menunjukkan aktivitas ekonomi di sektor manufaktur dan konstruksi masih cukup aktif. Meski secara tahunan mengalami koreksi.

“Impor dari Tiongkok dan negara Asia Tenggara lainnya tetap dominan, terutama untuk kebutuhan proyek dan industri,” ujarnya. (kn-2)

Bagikan:

Berita Terkini