TANJUNG SELOR – Kinerja ekspor Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mengalami penurunan tajam sepanjang Januari-September 2025.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara, total nilai ekspor tercatat hanya USD 1,02 miliar, merosot 50,43 persen. Jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai USD 2,06 miliar.
Kepala BPS Kaltara Mas’ud Rifai menyampaikan, penurunan terbesar terjadi pada ekspor nonmigas. Turun 50,32 persen dari USD 2,05 miliar menjadi USD 1,02 miliar. Sementara itu, ekspor migas juga terkontraksi lebih dalam, anjlok hingga 78,46 persen.
“Penurunan ekspor nonmigas terutama dipicu oleh merosotnya kinerja ekspor hasil pertambangan yang selama ini menjadi penopang utama ekspor Kaltara,” ujarnya, Senin (10/11).
Sektor hasil pertambangan tercatat kehilangan nilai ekspor sebesar USD 672,33 juta atau turun 59,70 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kontribusinya terhadap total ekspor Kaltara pun menurun menjadi 65,76 persen.
Namun, di tengah kelesuan ekspor tambang, dua sektor lain menunjukkan tren positif. Ekspor hasil industri meningkat tajam 43,44 persen, naik dari USD 214,92 juta menjadi USD 308,29 juta. Sementara ekspor hasil pertanian juga tumbuh 35,39 persen menjadi USD 37,89 juta.
“Secara bulanan, nilai ekspor Kaltara pada September 2025 tercatat USD 97,65 juta, turun 20,22 persen dibandingkan Agustus. Penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya ekspor nonmigas 20,25 persen,” jelasnya.
Komoditas utama penyumbang ekspor nonmigas masih didominasi oleh Bahan bakar mineral (HS 27) senilai USD 672,33 juta. Pulp kayu atau bahan selulosa (HS 47) senilai USD 112,54 juta. Tembakau dan pengganti tembakau pabrikan (HS 24) senilai USD 213,28 juta.
Meski begitu, pada September terjadi penurunan ekspor terbesar pada kelompok tembakau dan pengganti tembakau yang anjlok 72,77 persen. Serta bahan bakar mineral yang turun 2,01 persen dibanding bulan sebelumnya.
Negara tujuan ekspor utama Kaltara masih didominasi oleh Tiongkok 47,95 persen, Filipina 20,68 persen, dan India 8,02 persen. Total ekspor ke delapan negara utama tercatat USD 904,63 juta, turun 48,87 persen dibanding tahun lalu.
Penurunan paling tajam terjadi pada ekspor ke India yang anjlok 74,52 persen, disusul Tiongkok yang turun 28,22 persen. Nilai ekspor komoditas asal Kaltara yang dikirim melalui pelabuhan di luar provinsi justru meningkat pesat. Totalnya mencapai USD 113,92 juta, naik 152,36 persen dibanding tahun lalu.
“Provinsi dengan kontribusi terbesar terhadap ekspor tersebut adalah Jawa Timur (USD 105,77 juta), Sulawesi Selatan (USD 5,35 juta) dan DKI Jakarta (USD 2,78 juta),” sebut dia.
Meski kinerja ekspor Kaltara masih tertekan akibat penurunan permintaan global terhadap komoditas tambang. Peningkatan pada sektor industri dan pertanian dinilai dapat menjadi momentum diversifikasi ekonomi daerah.
“Kita perlu memperkuat sektor hilirisasi dan memperluas pasar nontradisional, agar kinerja ekspor Kaltara bisa lebih stabil,” tutupnya. (kn-2)