Produksi Telur Ayam Ras Capai 6,4 Juta Ton dan Kebutuhan Bulanan Hanya 518 Ribu Ton, ndonesia Bebas dari Eggflation

HARGA TELUR: Pedagang saat merapihkan telur ayam di toko miliknya di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta.

Di saat sejumlah negara mengalami fenomena eggflation atau harga telur ayam meroket, Kementerian Pertanian (Kementan) bersyukur Indonesia terbebas dari fenomena eggflation ini. Pasalnya, harga telur di Indonesia relatif stabil karena produksi melimpah.

 

UNTUK diketahui, fenomena eggflation telah membuat harga telur di banyak negara melonjak tajam. Sehingga berdampak pada produk berbasis telur seperti kue kering dan makanan olahan lainnya yang kini mencapai rekor tertinggi.

Mengutip Love Money pada Senin (24/3) lalu, lonjakan harga ini disebabkan oleh berbagai faktor. Termasuk wabah flu burung yang meningkatkan biaya produksi serta krisis pasokan di sejumlah negara.

Di Swiss, misalnya, harga telur per kilogram kini menyentuh USD 6,85 atau sekitar Rp 113.534. Sementara itu, di Selandia Baru harganya mencapai USD 6,22 atau Rp 103.063, di Singapura USD 3,24 atau Rp 53.687, di Amerika Serikat USD 4,11 atau Rp 68.103, di Prancis USD 4,08 atau Rp 67.606, dan di Australia USD 4,13 atau Rp 68.428.

Baca Juga  Bonsai Legundi, Pohon Bonsai Endemik dengan Corak Keropos dan Bonggol Unik

Namun, di Indonesia, harga telur tetap stabil dengan stok yang terjaga, bahkan melimpah. Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan Moch. Arief Cahyono menyatakan bahwa per 25 Maret, harga telur ayam ras nasional berada di angka Rp 29.475 per kilogram. Sementara itu, di DKI Jakarta, harga telur lebih rendah dari rata-rata nasional, yakni Rp27.688 per kilogram.

“Seperti yang sudah disampaikan oleh Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, pemerintah terus menjaga stok dan harga komoditas pangan strategis, termasuk telur,” katanya pada Selasa (25/3) malam.

Dia bersyukur berkat kerja keras semua pihak, terutama petani dan peternak, pada Ramadan dan Lebaran kali ini stok dan harga sembilan komoditas pangan strategis dalam kondisi aman. Bahkan melimpah.

Arief menjelaskan bahwa kondisi peternakan di Indonesia berbeda dengan negara lain. Karena neraca telur ayam nasional saat ini mengalami surplus. Berdasarkan proyeksi neraca pangan 2025 yang dihimpun oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas), produksi telur ayam ras saat ini mencapai 6,4 juta ton.

Baca Juga  Dua Dunia Rizki Ramadhani: Staf Kejati Aceh, Vokalis Band Metal Wakil Indonesia di Festival Dunia

Sedangkan kebutuhan bulanan sekitar 518 ribu ton. Dengan demikian, Indonesia diperkirakan akan terus mengalami surplus.

“Surplus ini menunjukkan kapasitas produksi yang kuat. Kami akan terus memastikan keseimbangan antara pasokan dan harga agar tidak merugikan peternak maupun konsumen,” ujar Arief.

Uniknya, negara-negara eksportir grand parent stock (GPS) ayam ke Indonesia justru mengalami kekurangan pasokan dan harga telur mereka melonjak tinggi.

Amerika Serikat, Prancis, dan beberapa negara Eropa yang selama ini menjadi pemasok utama GPS ke Indonesia kini tengah berjuang menghadapi krisis pasokan. Akibat wabah penyakit unggas dan kenaikan biaya produksi.

Dia menjelaskan, eggflation terjadi di negara-negara yang menjadi sumber impor GPS, seperti Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, termasuk Prancis.

Kondisi yang kurang stabil di negara-negara tersebut menunjukkan bahwa industri peternakan ayam petelur secara global sedang menghadapi tantangan.

Selain itu, Kementan memastikan stabilisasi ketersediaan bahan baku pakan. Upaya stabilisasi ini dilakukan melalui berbagai program, seperti pengembangan sentra jagung, optimasi distribusi pakan, dan pemanfaatan bahan baku alternatif.

Baca Juga  Sosok di Balik Video Mapping Wisata Kota Lama Surabaya

Keberhasilan pemerintah dalam meningkatkan produksi jagung nasional juga berpengaruh. Sebab jagung jadi sumber utama pakan ternak menjadi salah satu faktor kunci dalam menjaga kestabilan harga dan pasokan telur di dalam negeri.

“Ketersediaan pakan yang stabil dan terjangkau menjadi kunci utama keberhasilan industri perunggasan,” ujar Arief.

Surplus produksi ini juga membuka peluang bagi Indonesia untuk mengekspor telur ayam ke berbagai negara yang mengalami keterbatasan pasokan.

“Kekurangan stok di negara lain bisa menjadi peluang bagi kita untuk melakukan ekspor. Salah satu rencana ekspor adalah ke Amerika Serikat. Berdasarkan neraca komoditas, pemerintah siap mengirimkan 1,6 juta butir telur setiap bulan,” ungkap Arief.

Dia menegaskan bahwa Kementan telah melakukan perhitungan matang agar ekspor tidak mengganggu ketersediaan telur di dalam negeri. Kementan selalu memeriksa neraca komoditas untuk memastikan keseimbangan pasokan. (jpg)

Bagikan:

Berita Terkini