Candi Borobudur yang terletak di Magelang, Jawa Tengah, merupakan salah satu mahakarya peradaban dunia yang hingga kini masih berdiri kokoh.
DIBANGUN pada abad ke-8 oleh Dinasti Syailendra, Borobudur tidak hanya menjadi tempat ibadah umat Buddha, tetapi juga simbol persatuan budaya di Asia Tenggara. Keagungan arsitekturnya yang terdiri dari sembilan tingkat dengan ribuan relief menjadikannya pusat perhatian dunia.
UNESCO pun menetapkannya sebagai Warisan Budaya Dunia pada tahun 1991, menegaskan bahwa Borobudur memiliki nilai universal yang menghubungkan peradaban Asia dengan dunia modern.
Relief yang terpahat di dinding Borobudur bercerita tentang kisah kehidupan, ajaran moral, serta filosofi Buddha. Para peneliti menyebutkan bahwa setiap pahatan bukan hanya hiasan, melainkan “kitab batu” yang mencerminkan nilai dan kehidupan masyarakat Jawa kuno.
Menurut Dr. Retno Suryaningrum dari Universitas Gadjah Mada, relief-relief itu adalah ensiklopedia visual yang merekam cara hidup, pakaian, hingga sistem sosial masa lalu yang jarang ditemukan di naskah tertulis.
Selain nilai sejarahnya, Borobudur juga memiliki peran spiritual yang besar. Setiap perayaan Waisak, ribuan peziarah dari Thailand, Myanmar, Sri Lanka, dan berbagai negara lain datang untuk berdoa di candi ini.
Data Kementerian Agama mencatat, Borobudur menjadi pusat ziarah Buddhis terbesar di luar India, memperlihatkan betapa kuatnya ikatan spiritual antarnegara di Asia Tenggara. Tradisi ini mempertegas Borobudur sebagai simbol persatuan antarbangsa.
Borobudur juga mendapat pengakuan sebagai penghubung identitas Asia Tenggara. Dalam Konferensi Kebudayaan ASEAN 2023, Direktur Jenderal ASEAN Socio-Cultural Community, Ekkaphab Phanthavong, menyebutkan bahwa Borobudur adalah jembatan sejarah yang memperlihatkan kedekatan budaya lintas negara.
Pernyataan ini memperkuat anggapan bahwa Borobudur bukan hanya milik Indonesia, melainkan juga bagian dari warisan regional. Selain perannya sebagai pusat spiritual dan simbol budaya, Borobudur juga menggerakkan perekonomian lokal. Ribuan penduduk Magelang mengandalkan pariwisata Borobudur sebagai mata pencaharian, mulai dari penyedia homestay, pedagang makanan, hingga pengrajin suvenir.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah 2022, kontribusi pariwisata Borobudur menyumbang sekitar 30 persen dari pendapatan daerah Kabupaten Magelang, menjadikannya motor utama perekonomian setempat.
Namun, di balik kemegahannya, Borobudur juga menghadapi ancaman serius. Kerusakan akibat cuaca, erosi, dan tekanan wisata massal menjadi tantangan besar dalam menjaga keaslian bangunan. UNESCO dalam laporan evaluasinya 2021 menyatakan bahwa peningkatan jumlah wisatawan tanpa pengaturan yang ketat dapat mempercepat kerusakan struktur candi. Oleh sebab itu, rekomendasi pembatasan jumlah pengunjung harus diterapkan secara ketat.
Kolaborasi dengan lembaga internasional juga terus dilakukan untuk menjaga kelestarian Borobudur. International Council on Monuments and Sites (ICOMOS) menyebut Borobudur sebagai contoh sukses dalam upaya restorasi monumen bersejarah berskala besar. Kolaborasi antara Indonesia dan pakar luar negeri dianggap penting agar Borobudur tetap terawat dengan standar terbaik.
Bagi masyarakat lokal, Borobudur tidak hanya berarti sumber ekonomi, tetapi juga lambang identitas yang menyatukan mereka dengan sejarah dan budaya. Budayawan Yudi Latif menilai Borobudur adalah kitab batu yang mengajarkan manusia tentang keseimbangan hidup dengan alam. Menurutnya, Borobudur merupakan simbol harmoni yang relevan untuk dunia modern yang sering dilanda konflik dan krisis.
Dengan segala nilai sejarah, budaya, spiritual, dan ekonominya, Borobudur tetap menjadi mahakarya yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Keindahannya bukan hanya milik Indonesia, tetapi juga milik dunia, terutama kawasan Asia Tenggara yang memiliki ikatan sejarah kuat dengan monumen agung ini. (jpg)