Sosialisasi pembuatan “Kantong Ajaib” untuk menyerap logam berat sekaligus mengawetkan produk digelar Universitas Anwar Medika di Tambak Cemandi, Sedati, Sidoarjo. Program ini juga memperkuat pemasaran berbasis digital bagi Industri Rumah Tangga (IRT) kerang kupas agar bisa menembus pasar lebih luas.
PROGRAM pengabdian masyarakat ini berlangsung sejak Juni hingga November 2025 dengan menggandeng pelaku IRT kerang kupas.
Kegiatan dipimpin oleh dosen Universitas Anwar Medika, Eviomitta Rizki Amanda, S.Si., M.Sc, yang memiliki latar belakang pendidikan S1 Kimia di Universitas Airlangga dan S2 Kimia di Universiti Teknologi Malaysia.
Eviomitta menjelaskan kegiatan ini merupakan hibah dari Kemendikbudristek untuk pengabdian kepada masyarakat. Timnya kemudian mengangkat isu pengolahan kerang guna menurunkan kadar logam berat yang kerap menjadi persoalan utama pada produk perikanan.
“Sebenarnya ini kan hibah dari Kemendikbudristek (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi) terkait pengabdian masyarakat. Nah, kemudian kami mengambil judul terkait pengolahan kerang untuk menurunkan logam berat,” ujar Eviomitta kepada JawaPos.com, Minggu (21/9).
Untuk pengolahan kerang, digunakan metode dapurasi dengan seperangkat alat khusus. Kerang yang sudah dikupas direndam lima menit dengan air bercampur cuka, kemudian disirkulasikan menggunakan pompa dengan tambahan es.
“Kemudian untuk teknis kegiatannya itu, selain pengolahan kerang, juga terkait pengawetan sama pemasaran digital seperti itu. Jadi, yang pertama terkait pengolahan kerang itu dilakukan dengan metode dapurasi, pakai seperangkat alat dapurasi gitu,” jelas Eviomitta.
Air bercuka yang bersifat asam inilah yang membantu melarutkan logam berat yang menempel pada kerang. Setelah proses dapurasi, kerang ditiriskan lalu dikemas dengan vacuum sealer agar lebih higienis dan tahan lama.
Vacuum sealer dipilih untuk mencegah kontaminasi bakteri dari udara, sehingga kualitas kerang tetap terjaga. Selain itu, tim juga melatih pelaku IRT membuat ice gel berbahan kitosan untuk memperkuat daya tahan dingin dan sifat antibakteri es pada saat distribusi.
“Kedua, kami kasih pelatihan membuatkan ice gel dari bahan kitosan,” jelas Eviomitta.
“Jadi, kalau es batu atau es balok kan cepat lelehnya selama pendistribusian kerang tadi. Sehingga kami kasih pelatihan pembuatan ice gel, biar dinginnya itu lebih tahan lama,” sambungnya.
Kitosan yang berasal dari cangkang udang berfungsi sebagai pengawet alami sekaligus antibakteri. Ice gel ini membantu mempertahankan suhu lebih lama dan menjaga kesegaran kerang selama proses distribusi.
“Kemudian, ice gel-nya juga ada tambahannya kitosan, kami kasih campuran bahan kitosan, di mana kitosan ini kan pengawet alami ya, dari cangkang udang, yang biasa digunakan sebagai pengawet makanan juga,” imbuh Eviomitta.
Tidak hanya berhenti pada pengolahan dan pengawetan, pelaku IRT juga diberi pelatihan digital marketing. Mereka diajarkan strategi branding hingga cara berjualan di platform seperti TikTok dan Shopee.
“Ketiga, pemasaran secara digital. Jadi, industri rumah tangga ini kami kasih pelatihan bagaimana dia branding di TikTok, berjualan di TikTok, kemudian di Shopee, seperti itu. Kita buatkan juga website dan akunnya,” tutur Eviomitta.
Tim Universitas Anwar Medika juga membuatkan website, akun media sosial, hingga Google Map Location untuk mempermudah pencarian usaha secara daring.
Dengan cara ini, produk kerang kupas diharapkan lebih mudah dikenal dan dipercaya konsumen.
“Kemudian, kita buatkan juga Google location-nya itu, jadi biar terdeteksi kalau misalkan ada yang mencari tempat usaha tersebut. Jadi, kita ajarkan pelatihan digital marketing lah istilahnya,” ungkap Eviomitta.
Masalah logam berat yang menempel pada kerang memang menjadi tantangan besar karena kerang hidup di dasar laut, tempat endapan logam menumpuk.
Untuk itu, alat dapurasi dilengkapi filter karbon aktif yang berfungsi menyerap logam berat berkat pori-porinya yang sangat banyak.
“Di dasar laut itu kan dia tetap hidup. Berarti kan dia ini pertahanannya kuat sekali, di mana di dasar laut ini juga tempatnya logam-logam berat itu mengendap,” papar Eviomitta.
“Kemudian alat dapurasi yang kita gunakan tadi, yang kita kasih juga sama kita kasih air yang disirkulasikan itu, itu ada filtrasinya, ada filternya,” tambahnya.
Filternya itu pakai karbon aktif, di mana karbon aktif ini dari hasil penelitian. Kan mampu untuk menyerap logam berat, karena memiliki banyak pori. Selain filter karbon, alat ini juga dilengkapi lampu UV yang mampu mendegradasi polutan organik. Lampu UV juga bekerja membunuh bakteri sehingga proses dapurasi sekaligus berperan sebagai desinfeksi.
“Nah, kemudian selain pakai karbon aktif, kita juga di dalam alat dapurasi itu, satu kotak itu isinya filter, kemudian bawahnya kita kasih lampu UV. Lampu UV ini untuk degradasi pengotor atau polutan bahan organik yang menempel di kerangnya itu,” ujar Eviomitta.
“Kemudian lampu UV ini juga berperan untuk membunuh bakteri. Jadi tujuannya dilakukan dapurasi melalui sirkulasi air yang mengalami sirkulasi itu tadi adalah untuk selain menghilangkan logam berat, juga menghilangkan polutan organiknya, serta desinfeksi bakteri menggunakan lampu UV,” urainya.
Dalam tahap awal, ada tiga IRT yang menjadi sasaran program ini. Namun, saat ini baru satu IRT yang sudah menjalani serangkaian pelatihan dan pendampingan secara bertahap.
Setiap IRT yang menjadi mitra mendapat satu paket alat dapurasi lengkap, freezer, serta peralatan memasak berkapasitas besar.
Hal ini memungkinkan mereka meningkatkan kapasitas produksi dari sebelumnya hanya 5 kilogram sekali rebus menjadi 15 kilogram sekaligus.
“Jadi yang sebelumnya itu merebusnya itu 5 kg kayak gitu, jadinya kalau misalkan 15 kg kan harus 3 kali, nah ini dia bisa sekali rebus langsung 15 kg untuk peningkatan kapasitas peralatan produksinya,” ujar Eviomitta.
Freezer diberikan untuk menyimpan produk kerang kupas yang sudah dikemas vakum sealer. Dengan begitu, stok dapat terjaga lebih lama sebelum dipasarkan, baik secara offline maupun online.
Eviomitta menegaskan tujuan utama program ini adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas produk kerang kupas. Jika kualitas meningkat dan jangkauan pasar diperluas, maka ekonomi masyarakat juga ikut terangkat.
“Tujuan awalnya itu kita tingkatkan terlebih dahulu jangkauan pemasarannya, sama kalau untuk meningkatkan jangkauan pemasaran, berarti harus kita dukung dengan peningkatan kapasitas produksinya, sama kualitasnya juga,” pungkas Eviomitta.
Target jangka pendek dari program ini adalah memperluas pemasaran melalui platform digital. Dengan pengemasan yang rapi dan mutu yang terjamin, bukan tidak mungkin kerang kupas ini bisa masuk pasar modern hingga supermarket.
Melalui kolaborasi antara teknologi pengolahan, pengawetan, dan pemasaran digital, Universitas Anwar Medika berharap produk lokal bisa bersaing di level lebih tinggi.
Peningkatan daya saing inilah yang menjadi kunci agar pelaku IRT kerang kupas mampu bertahan dan berkembang. Harapan besarnya, produk kerang kupas dari Tambak Cemandi tidak hanya dikenal di Sidoarjo, tetapi juga mampu merambah pasar nasional.
Jika kualitas tetap terjaga, kerang kupas berpotensi menjadi komoditas unggulan yang mendongkrak ekonomi warga pesisir. Ke depan, program ini akan terus diperluas ke IRT lain dengan pendampingan berkelanjutan. Dengan begitu, manfaat “Kantong Ajaib” dan pemasaran digital ini dapat dirasakan lebih banyak masyarakat.
Melalui pengabdian masyarakat ini, Universitas Anwar Medika menunjukkan riset kampus bisa menjawab persoalan nyata di lapangan. Bukan hanya solusi teknis, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi berbasis kearifan lokal. (jpg)