Hari Pahlawan di Surabaya: Mengikis Stigma Gen Z, Menyesap Sejarah via Kelana Musea

Sorot mata tajam Bung Karno dan Bung Hatta menyambut puluhan Generasi Z (Gen Z) yang saat itu berbondong-bondong melewati pintu gerbang besar di lantai dua Museum Sepuluh Nopember, Surabaya.

 

HURUF demi huruf dibaca dengan teliti oleh siswa-siwi SMK Kesehatan Bina Husada yang tengah mengikuti Kelana Musea. Adik-adik Gen Z ini terpukau membaca bagaimana meriam-meriam hasil rampasan perang digunakan arek-arek Suroboyo untuk melawan penjajah.

Merayap diantara kerumuman pertempuran, Kusno Wibowo dan Hariyono dengan gagah berani merangsek naik ke atas tiang bendera di Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit Surabaya, Red.).

Dua pemuda dibawah komando Residen Soedirman ini tanpa keraguan merobek bagian biru bendera Belanda.

Merdeka! Merdeka! Merdeka! bendera merah putih berkibar lantang di langit Surabaya.

Peristiwa 19 September 1945 itu menjadi penanda bagaimana suluh api perjuangan anak muda kian terang membara dalam merebut kemerdekaan. Kusno dan Hariyono menjadi simbol “Gen Z era 1945” dan juga sosok kunci keberhasilan perang.

80 tahun berlalu, Gen Z saat ini sering dianggap jauh dari sejarah dan lebih dekat dengan layar ponsel serta media sosial daripada ruang pamer dan artefak budaya.

Namun pemandangan berbeda tampak di Surabaya menjelang Hari Pahlawan Sepuluh Nopember 2025, ketika para pelajar justru berbondong-bondong mengunjungi museum melalui program edukatif interaktif: Kelana Musea Surabaya.

Program ini diinisiasi oleh UPTD Museum dan Gedung Seni Budaya Disbudporapar Kota Surabaya sebagai cara segar untuk mengenalkan museum kepada pelajar.

Berbeda dari kunjungan sekolah yang formal dan cenderung pasif, Kelana Musea menawarkan pengalaman berkeliling museum sambil menyelesaikan misi seperti permainan petualangan.

Terdapat empat museum yang menjadi titik kelana peserta, yaitu Museum Sepuluh Nopember Tugu Pahlawan, Museum Surabaya, Museum Pendidikan Surabaya, dan Museum Olahraga Surabaya.

Sementara itu, Museum Sepuluh Nopember mulai dibangun pada Sepuluh Nopember 1991 dengan luas 1.366 m² pada kedalaman 7 meter dan diresmikan pada 19 Februari 2000 oleh Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid guna melengkapi fasilitas sejarah kawasan tersebut.

Baca Juga  Mental Bantu Jaga Daya Juang Timnas MLBB Women Indonesia, Kini Bidik Esports World Cup 2025

Setiap museum memiliki tantangan berbeda yang harus diselesaikan, mulai dari menyusun kronologi sejarah hingga menemukan informasi penting dari koleksi yang dipamerkan.

Museum Olahraga Surabaya menjadi salah satu destinasi yang paling menarik perhatian para peserta karena menyuguhkan perspektif perjuangan yang berbeda.

Museum ini berdiri di kawasan Gedung Gelora Pantjasila di Jalan Padmosusastro dan diresmikan pada 8 Mei 2021 oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bersama Menteri Sosial RI Tri Rismaharini.

Museum tersebut menyimpan 235 koleksi yang menampilkan perjalanan atlet-atlet berprestasi asal Surabaya.

Tidak hanya berupa benda, museum ini menyajikan kisah-kisah perjuangan para atlet yang membanggakan nama kota di pentas nasional dan internasional.

Daundra D’kanza, mahasiswa magang dari Universitas Negeri Surabaya, dengan antusias dan penuh senyum membagikan wawasannya saat mendampingi puluhan pengunjung.

“Kegiatan utama aku di museum olahraga ini adalah memandu pengunjung dan memperkenalkan sejarah museum serta kisah atlet-atlet yang ada di sini dan menjalankan program Kelana Musea Surabaya,” ujarnya saat diwawancarai jurnalis JawaPos.com, Moch. Rizky Pratama Putra, Kamis (6/11).

Gadis berkaca mata ini menjelaskan bahwa banyak orang mengira museum olahraga tidak berkaitan dengan sejarah perjuangan.

Daundra menyampaikan bahwa museum olahraga berbeda dengan museum sejarah perjuangan seperti Museum Sepuluh Nopember.

Jika museum-museum sejarah menampilkan pertempuran, museum olahraga menampilkan perjuangan dalam bentuk disiplin, kerja keras, dan ketekunan jangka panjang.

“Di sini pengunjung bisa melihat biodata, biografi, dan pencapaian atlet-atlet yang sudah mengharumkan nama Surabaya,” kata Daundra dalam balutan kemeja putihnya.

Ia berharap semakin banyak generasi muda melihat bahwa perjuangan memiliki banyak bentuk, bukan hanya yang pernah terjadi dalam sejarah pertempuran.

Senada dengan Daundra, Luthfi Rahmanda yang juga mahasiswa sastra Inggris UNESA, menyampaikan pandangan serupa mengenai arti pahlawan di masa kini.

“Menurut saya, pahlawan itu bisa siapa saja, bahkan diri kita sendiri ketika kita berusaha melawan rasa malas dan tetap produktif,” ungkap pemuda berambut ikal ini.

Baca Juga  Bertanam Italian Aubergine Violetta Di Firenze, si Ungu yang Manis

Luthfi menilai influencer yang memberi dampak positif bagi pengikutnya juga bisa disebut pahlawan. “Asal membawa kebaikan dan motivasi, itu sudah bentuk perjuangan,” lanjutnya.

Pengalamannya di museum olahraga membuatnya semakin menyadari bahwa para atlet adalah pahlawan dalam bidangnya.

“Mereka berjuang membanggakan kota, membuktikan bahwa Surabaya punya banyak talenta yang bisa bersaing sampai tingkat internasional,” sambung Luthfi.

Dirinya berharap para pengunjung yang datang ke museum bisa terinspirasi oleh semangat pantang menyerah para atlet.

“Harapannya semoga mereka termotivasi untuk terus melangkah mengejar cita-cita dan tidak gampang menyerah,” pungkasnya.

Cerita mengenai Kelana Musea Surabaya juga disampaikan oleh Dinar, staf Museum Sepuluh Nopember Tugu Pahlawan yang turut menjadi panitia program.

Pihaknya menjelaskan bahwa Kelana Musea merupakan bagian dari rangkaian menuju pameran besar bertajuk cross musea yang berlangsung 20–30 November.

“Kami ingin peserta tidak hanya datang dan melihat-lihat, tetapi merasakan pengalaman berkelana di museum,” kata Dinar yang saat itu mengenakan kebaya anggun warna putih.

Ia mengatakan konsep permainan yang mirip Amazing Race dipilih agar pengalaman museum terasa menyenangkan dan tidak membosankan.

Dalam program ini, peserta datang berpasangan dan menjalani misi di empat museum tersebut. Setelah menyelesaikan setiap tantangan, mereka mendapatkan stempel sebagai tanda telah menyelesaikan tahapan kunjungan.

Pada akhir sesi keliling, skor akan dihitung dan dipilih 10 tim terbaik untuk masuk tahap final.

Para finalis kemudian diberi tugas membuat video gagasan kreatif yang mempresentasikan pemahaman mereka terhadap museum-museum yang telah dikunjungi.

Dinar mengatakan antusiasme peserta sangat besar dan program ini mendapat respons positif. “Harapannya tahun depan bisa diperluas, bahkan hingga tingkat universitas,” ujarnya.

Pengalaman mengikuti Kelana Musea juga dirasakan langsung oleh Olivia Oktaviana dan Nabila Yuliandari, siswi kelas XI SMK Kesehatan Bina Husada Surabaya.

Keduanya mengaku awalnya tidak terlalu menyukai sejarah, tetapi program ini membuat mereka jadi lebih tertarik.

Baca Juga  Membuat Taman Minimalis: Outdoor Pilih Cemara Udang, Palem dan Kaktus untuk Indoor

Ia menceritakan bagaimana mereka harus menyusun kronologi sejarah dari rangkaian foto dalam waktu singkat.

Nabila menambahkan bahwa pengalaman tersebut terasa menantang sekaligus menyenangkan. “Awalnya gugup dan takut salah, tapi jadi bangga karena bisa menyelesaikan tantangannya,” katanya.

Kedua gadis berhijab ini juga memuji kondisi museum yang bersih dan tertata baik. “Rasanya nyaman buat belajar, jadi nggak bosan,” ujar Olivia.

Program Kelana Musea juga menjadi sarana penting mempromosikan museum-museum selain Museum Sepuluh Nopember yang selama ini menjadi pusat kunjungan utama.

“Kami ingin traffic museum lain juga meningkat sehingga museum lebih hidup dan dekat dengan masyarakat,” lanjut Dinar.

Selain itu, pameran cross musea yang menggandeng museum dari Jakarta, Surakarta, dan Jombang memungkinkan masyarakat melihat koleksi dari kota lain tanpa harus pergi jauh.

Pameran akan disajikan dengan video mapping untuk memberikan pengalaman visual yang imersif.

Kelana Musea Surabaya menunjukkan bahwa museum bukan ruang sunyi yang kaku. Museum dapat menjadi ruang belajar yang dinamis, inspiratif, dan relevan dengan kehidupan anak muda.

Hari Pahlawan bukan hanya soal mengenang masa lalu. Namun juga tentang bagaimana generasi hari ini memahami semangat perjuangan dan meneruskannya dalam bentuk yang sesuai dengan zaman.

Melalui Kelana Musea, Gen Z belajar bahwa perjuangan dapat muncul dalam berbagai bentuk.

Ada perjuangan di medan perang, ada perjuangan membangun pendidikan, ada perjuangan melestarikan kota, dan ada perjuangan meraih prestasi di lapangan olahraga.

Semangat itulah yang ingin dijaga oleh Kota Surabaya serta generasi penerus Kusno Wibowo dan Hariyono. Agar nilai-nilai perjuangan tidak sekadar tersimpan di museum, tetapi hidup membara dalam diri generasi penerus yang menyaksikannya serta melangiskan stigma yang telah terkerucut.

Dan di tengah kelana satu museum ke museum lain, Kusno-Kusno dan Hariyono-Hariyono baru bisa kembali lahir. Bak menyeruput kopi hitam panas: menyesap pelan, tetapi pasti. (jpg)

Bagikan:

Berita Terkini