TARAKAN – Kepemimpinan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kalimantan Utara (Kaltara) Nicky Saputra Novianto, menghadapi tekanan serius setelah puluhan anggota aktif di Kota Tarakan menyampaikan mosi tidak percaya.
Dalam pernyataan terbuka yang ditandatangani anggota dari berbagai media, para wartawan ini menilai Nicky gagal menjalankan roda organisasi secara demokratis, kolektif, dan transparan. Aspirasi ini muncul dari ketidakpuasan terhadap gaya kepemimpinan yang dianggap tidak melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan strategis.
Mekanisme forum-forum internal yang seharusnya menjadi wadah diskusi dan penentu arah organisasi disebut kerap diabaikan. Para anggota juga merasa suara mereka tak pernah diindahkan. Meskipun telah disampaikan baik secara lisan maupun tertulis.
Mosi tersebut berujung pada desakan agar Nicky mengundurkan diri. Para penggagas juga meminta PWI Pusat turun tangan untuk menyelidiki dan mengevaluasi kondisi internal. Serta mendorong pelaksanaan musyawarah luar biasa sebagai solusi untuk menyelamatkan organisasi.
Menanggapi dinamika ini, Sekretaris PWI Kaltara Aswar mengakui, pernyataan sikap tersebut masih bergulir di sejumlah kabupaten lainnya di Kaltara. Ia menegaskan bahwa setiap aspirasi akan diproses sesuai jalur yang berlaku.
“Kami memahami bahwa ini adalah bentuk ekspresi dari anggota. Sikap tersebut akan kita sampaikan secara berjenjang, sesuai mekanisme organisasi yang ada,” ujarnya, Minggu (24/8).
Aswar juga mengingatkan bahwa PWI sebagai organisasi profesi memiliki aturan yang telah disepakati bersama dalam Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT). Oleh karena itu, setiap persoalan internal harus disikapi secara proporsional dan tetap menjunjung tinggi etika organisasi.
Salah satu pemicu utama mosi ini terungkap dalam pleno yang membahas Kongres Persatuan PWI di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Menurut salah satu penggagas, PWI Kaltara mengadakan diskusi dan pleno untuk menentukan sikap dan pilihan calon ketua umum.
Meskipun mayoritas anggota telah menyampaikan pandangan mereka, Nicky disebut tetap pada pendiriannya, bahkan mengklaim hak prerogatif yang mengabaikan prinsip kolektif kolegial.
“Organisasi tetap memegang teguh prinsip kolektif kolegial (diputuskan bersama) di setiap pengambilan keputusan. Namun dia tetap kekeh, mengindahkan suara teman-teman yang ada,” ujar Aswar.
Aswar juga menegaskan PWI Kaltara belum menerbitkan dukungan kepada calon tertentu untuk Kongres Persatuan PWI. “Kalau ada orang tertentu yang mengaku mengantongi dukungan PWI Kaltara untuk calon tertentu di kongres, itu silakan dicek baik-baik. Verifikasi sumbernya. Kami duga itu orang mencari keuntungan tertentu,” terangnya.
Sementara itu, Ketua PWI Kaltara, Nicky Saputra Novianto menyayangkan anggotanya mengumbar dinamika internal organisasi ke publik. Jika sumber masalahnya adalah perbedaan pilihan calon ketua PWI Pusat. Ia meminta maaf kepada semua pihak yang merasa tersinggung.
“Sekali lagi saya minta maaf. Terkait tercemarnya nama baik saya setelah diberitakan ke khalayak banyak, saya akan ngobrol dengan Pak Ketua DKP (Dewan Kehormatan Provinsi). Mungkin beliau ada solusi untuk kembali memulihkan nama foto dan pemberitaan yang telah disiarkan,” singkatnya. (kn-2)