TANJUNG SELOR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltara berupaya meningkatkan kewaspadaan terhadap sejumlah penyakit menular maupun tidak menular yang berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa (KLB).
Salah satu yang saat ini menjadi sorotan utama penyakit campak. Menurut Kepala Dinkes Kaltara Usman laporan kasus campak terbaru memerlukan penanganan cepat, agar tidak berkembang menjadi KLB. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian berada di Kabupaten Malinau, setelah adanya laporan kasus positif.
“Campak ini memang berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa. Tim kami akan segera turun ke Malinau untuk melakukan penanganan lapangan,” ungkapnya, Selasa (2/9).
Selain campak, kondisi cuaca saat ini juga berpotensi memicu berkembangnya penyakit menular lainnya, terutama demam berdarah dengue (DBD) dan malaria.
“Kalau kita lihat, di daerah dengan curah hujan cukup tinggi memang berpotensi memicu munculnya kasus DBD. Begitu juga dengan malaria, meskipun pencatatan dan surveilans kita sudah cukup baik, kasus tetap menunjukkan tren peningkatan,” ujarnya.
Pemerintah provinsi menegaskan, sistem surveilans kesehatan yang semakin membaik membuat pelaporan kasus menjadi lebih cepat dan akurat. Hal ini turut memengaruhi jumlah temuan kasus yang terlihat meningkat. Meski sebenarnya lebih kepada faktor deteksi dini yang semakin optimal. Selain penyakit menular akut, tuberkulosis (TB) juga menjadi perhatian serius pemerintah.
TB dinilai masih menjadi tantangan besar di Kaltara. Sejalan dengan instruksi Presiden untuk memperkuat penanganan penyakit menular tersebut.
“TB ini sebenarnya bisa disembuhkan, walaupun pengobatannya jangka panjang sekitar enam bulan. Tantangan kita bagaimana kabupaten dan kota bisa memperkuat skrining dan menemukan kasus sejak dini,” pintanya.
Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari pelatihan tenaga kesehatan hingga melengkapi fasilitas pelayanan kesehatan dengan peralatan deteksi TB yang lebih modern. Pemerintah juga berupaya menekan stigma negatif yang masih melekat di masyarakat terhadap pasien TB.
“Ini yang harus kita lawan. TB bukan penyakit kutukan, bisa disembuhkan jika diobati dengan benar. Pasien tidak boleh takut atau malu untuk memeriksakan diri,” tambahnya.
Selain TB, penanganan HIV/AIDS juga menjadi fokus. Meskipun angka kasus belum dipaparkan secara rinci, tren peningkatan tetap terpantau. Hal ini kembali dipengaruhi oleh sistem pelaporan kasus yang semakin baik. Strategi utama dalam menekan penyakit menular maupun tidak menular dengan pencegahan dan deteksi dini.
Karena itu, kerja sama lintas kabupaten/kota dan kesadaran masyarakat sangat dibutuhkan. Usman berharap kabupaten dan kota lebih proaktif dalam memperkuat skrining. Deteksi sejak dini akan sangat membantu agar kasus tidak berkembang lebih parah.
Dinkes mengingatkan masyarakat untuk menjaga pola hidup bersih dan sehat, melakukan imunisasi sesuai jadwal. Serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala yang mencurigakan.
“Terpenting, jangan menunggu sakit parah baru ke puskesmas. Campak, TB, DBD, malaria, maupun HIV/AIDS bisa ditekan kalau kita sama-sama waspada dan bertindak cepat,” pesannya. (kn-2)