TANJUNG SELOR – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Pemprov Kaltara) terus memperkuat strategi penanggulangan penyakit menular. Khususnya tuberkulosis (TB) dan AIDS, yang hingga kini masih menjadi masalah kesehatan nasional.
TB menjadi perhatian serius pemerintah karena jumlah kasus yang dilaporkan terus meningkat. Namun, peningkatan ini bukan semata karena penularan. Melainkan juga karena pencatatan dan surveilans yang semakin baik.
“Kita sudah melakukan berbagai upaya, mulai dari pelatihan tenaga kesehatan hingga melengkapi fasilitas kesehatan dengan alat deteksi TB. Harapan kami, kabupaten dan kota juga memperkuat screening agar kasus bisa ditemukan lebih cepat,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Kaltara Usman, Jumat (5/9).
Ia menekankan, TB bukanlah penyakit mematikan yang tidak bisa diatasi. Dengan pengobatan yang tepat dan teratur selama enam bulan, penderita TB dapat sembuh.
“Masih ada stigma di masyarakat bahwa TB penyakit berbahaya dan sulit disembuhkan. Padahal kenyataannya, TB bisa sembuh total. Stigma ini harus kita lawan,” ujarnya.
Hal yang sama juga berlaku pada AIDS. Pemerintah berkomitmen memperkuat edukasi, layanan kesehatan, serta mempercepat pelaporan kasus agar data lebih akurat.
“Surveilans kita sudah mulai bagus. Kasus yang muncul bisa segera kita laporkan dan tangani. Ini penting agar tidak ada keterlambatan dalam penanganan,” ungkapnya.
Pemprov Kaltara mengajak masyarakat untuk tidak ragu memeriksakan diri ke fasilitas Kesehatan. Apabila mengalami gejala TB maupun penyakit menular lainnya.
“Yang paling penting, kesadaran bersama bahwa penyakit ini bisa kita atasi dengan pengobatan dan pola hidup sehat. Jangan ada stigma, karena TB maupun AIDS bukanlah akhir dari segalanya,” tuturnya.
Selain itu, Pemprov Kaltara juga berkomitmen menghadirkan layanan kesehatan yang merata bagi masyarakat. Termasuk mereka yang tinggal di daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan (DTPK). Program Dokter Terbang menjadi salah satu upaya menjamin layanan kesehatan.
Menurut Usman, program ini masih sangat relevan dan dibutuhkan. Pasalnya, tidak semua masyarakat di DTPK bisa mengakses fasilitas kesehatan memadai atau mendatangi rumah sakit di ibu kota provinsi maupun kabupaten.
“Kalau saya lihat, minat masyarakat terhadap layanan Dokter Terbang cukup tinggi. Karena itu, program ini tetap kami jalankan setiap tahun,” ujarnya.
Pada tahun 2025 ini, Pemprov Kaltara mengalokasikan Rp 1,7 miliar untuk mendukung pelaksanaan Dokter Terbang. Dari total kegiatan yang direncanakan, progres realisasi program ini sudah mencapai sekitar 50 persen. Meski berada di tengah situasi efisiensi anggaran, program ini tidak mengalami hambatan berarti di lapangan.
“Artinya, program ini bisa berjalan lancar dan tetap dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” jelasnya.
Dokter Terbang merupakan wujud nyata kebijakan Gubernur Kaltara, Zainal A Paliwang, dalam memastikan masyarakat mendapatkan layanan kesehatan yang merata. Khususnya layanan spesialistik yang selama ini sulit diakses di DTPK.
Berbeda dengan pelayanan kesehatan dasar, Dokter Terbang menghadirkan tenaga dokter spesialis sesuai kebutuhan masyarakat setempat. Selama beberapa tahun pelaksanaannya, permintaan tertinggi datang dari layanan penyakit dalam dan spesialis anak.
“Makanya dalam pelayanan, dokter penyakit dalam dan anak hampir selalu dibawa. Selain itu, dokter kandungan juga cukup sering dibutuhkan, meskipun jumlah pasiennya tidak sebanyak dua layanan tadi. Spesialis mata pun terkadang kita hadirkan karena ada masyarakat yang membutuhkan,” urainya.
Dokter Terbang hadir bukan sekadar program kesehatan reguler, melainkan layanan spesialistik yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat di daerah tujuan. Kehadiran Dokter Terbang merupakan bagian dari strategi besar menghadirkan layanan kesehatan yang inklusif, adil, dan merata.
Bagi masyarakat di perbatasan yang selama ini kesulitan mengakses rumah sakit, program ini seolah menjadi jawaban atas keterbatasan. Tujuannya sederhana, masyarakat di DTPK bisa mendapatkan layanan yang sama dengan masyarakat di perkotaan. Minimal mereka tidak perlu jauh-jauh ke Tarakan atau Tanjung Selor untuk sekadar bertemu dokter spesialis. (kn-2)