TARAKAN – Dampak dari kelesuan ekonomi belakangan ini mulai terasa di Kota Tarakan, yang memicu adanya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di beberapa perusahaan.
Meskipun demikian, angka PHK yang terjadi dinilai tidak signifikan. Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Tarakan, Agus Sutanto membenarkan dampak ekonomi lesu memang mempengaruhi dunia kerja.
“Ya, kalau untuk berdasar data yang dilaporkan, memang dampaknya terasa. Karena terbukti ada beberapa perusahaan yang laporkan kerja di PHK. Tapi tidak sampai terlalu besar-besaran,” ujarnya.
PHK dilaporkan terjadi di beberapa sektor usaha, termasuk perusahaan pembiayaan, finance dan distributor. Menyikapi hal ini, Agus berharap pemerintah dapat segera mengeluarkan kebijakan yang mampu mendorong pemulihan ekonomi.
“Mudah-mudahan ini pemerintah ini bisa ada kebijakan yang bisa segera memulihkan perekonomian lagi. Sehingga investasi bisa masuk, kemudian badan usaha ini bisa berkembang. Secara otomatis ini akan bisa menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran yang ada,” harapnya.
Meski ada PHK, Agus menambahkan bahwa jumlah pencari kerja di Tarakan relatif stabil dan tidak ada peningkatan yang signifikan dibanding tahun lalu. Pengajuan kartu kuning (kartu AK-1) sebagai syarat pencari kerja juga disebut fluktuatif. Kenaikan biasanya terjadi menjelang momen tertentu, seperti job fairatau penerimaan karyawan baru. Saat ini, angka pengangguran terbuka di Kota Tarakan masih berada di atas 5 persen
“Tapi tahun ini, kalau di rata-rata satu bulannya kurang lebih antara 100 sampai 150. Kalau di Tarakan sekitar 6 ribuan lah,” pungkasnya. (kn-2)