TANJUNG SELOR – Dalam upaya mempercepat pencapaian target Sustainable Development Goals (SDG’s), khususnya pada aspek penurunan angka stunting.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan bersama GIZ melalui program Protection and Human Livelihood (PLHL) melakukan penandatanganan komitmen bersama kemitraan multi pihak. Penandatanganan ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, organisasi perempuan, hingga kader kesehatan.
Fokus kegiatan diarahkan pada dua wilayah prioritas, yakni Kelurahan Tanjung Selor Timur dan Desa Jelarai, yang menjadi lokasi intervensi utama penurunan stunting. Wakil Bupati Bulungan Kilat menegaskan, pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menekan angka stunting di daerah.
Kata dia, tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Karena semua sudah tahu betapa pentingnya persoalan stunting ini.
“Saya merasa sedih, karena ternyata masih ada sekitar 38 anak yang terkena stunting di Tanjung Selor Timur, yang notabene ada di wilayah kita sendiri,” kata dia, Kamis (6/11) lalu.
Ia menegaskan langkah nyata dan berkelanjutan harus terus dilakukan. Ia meminta seluruh pihak berkomitmen bersama. Serta harus turun langsung ke lapangan untuk melihat kendala masyarakat.
“Saya harap Posyandu dan ibu-ibu PKK terus diberdayakan. Agar bisa mendeteksi dan menindaklanjuti kasus stunting lebih dini,” tambahnya.
Ia juga meminta agar setiap instansi menyampaikan laporan berbasis data yang akurat. Laporan harus mencantumkan data by name by address agar hasil intervensi lebih terukur.
“Saya berharap desa dan kecamatan lain ikut termotivasi agar penurunan stunting di Bulungan makin signifikan,” tegas Kilat.
Sementara itu, Kepala Bappeda dan Litbang Bulungan Iwan Sugiyanta melaporkan, angka prevalensi stunting di Bulungan berhasil turun dari 22,6 persen pada 2023 menjadi 15,9 persen di tahun 2024. Penurunan ini, kata dia, merupakan hasil kerja sama lintas sektor.
“Selain dukungan BAZNAS dan Kementerian Agama, Dinas Kesehatan juga memperkuat program pemberian tablet tambah darah untuk anak usia SMP. Namun, kami masih menemukan tantangan di sektor sanitasi. Masih ada keluarga yang mampu secara ekonomi, tapi belum memiliki jamban yang layak,” ungkap Iwan.
Ia berharap, komitmen lintas sektor yang dibangun dapat mempercepat penurunan angka stunting. Serta meningkatkan kualitas hidup anak-anak di Kabupaten Bulungan. (kn-2)