TARAKAN – Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terus mengevaluasi pelaksanaan Public Service Obligation (PSO) bidang pers yang dijalankan bersama LKBN Antara.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan masyarakat menerima informasi yang memenuhi unsur 3N plus 1N, yakni edukatif, mencerahkan, memberdayakan serta memperkuat nasionalisme.
Ketua Tim Kebijakan Ekosistem Media, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Dimas Aditya Nugraha menjelaskan, informasi publik kini berhadapan dengan derasnya konten viral yang tak selalu membawa nilai kebaikan. Karena itu, PSO bidang pers hadir untuk menjaga ruang informasi tetap sehat.
“Kita ingin memastikan informasi yang diterima masyarakat adalah informasi yang edukatif, mencerahkan, memberdayakan, dan menguatkan NKRI. Di tengah arus viralitas, informasi yang berbobot harus tetap sampai,” ujar Dimas saat berdialog dengan para pengguna layanan PSO Antara di Tarakan, Rabu (26/11).
Kalimantan Utara menjadi salah satu provinsi sampling dalam evaluasi PSO karena karakteristiknya sebagai wilayah 3T dan daerah perbatasan. Menurut Dimas, penting untuk melihat bagaimana berita nasional diterima di Kaltara, sekaligus memastikan isu-isu daerah juga bisa terangkat ke tingkat nasional.
“Kita ingin mendengar bagaimana konten dari pusat diterima di sini, dan sebaliknya bagaimana isu Kalimantan Utara bisa lebih terekspos di tingkat nasional,” kata pria yang juga menjabat anggota Tim Verifikasi PSO Pers LKBN Antara.
Dalam sesi diskusi, berbagai masukan diberikan oleh media lokal dan akademisi. Mulai dari kebutuhan tema-tema khusus mengenai Kaltara. Termasuk isu kehijauan, karakter perbatasan, keberagaman masyarakat, hingga keinginan menghadirkan konten how-to yang menginspirasi. Seperti kisah membangun usaha atau panduan keterampilan.
Masukan lain berkaitan dengan artikel opini. Dimas menegaskan, akademisi dan pemerintah daerah dapat lebih memanfaatkan ruang opini untuk menyampaikan perspektif strategis yang berlandaskan data dan kajian ilmiah. Selain mendorong produksi konten berkualitas, PSO bidang pers juga diharapkan berkontribusi menyehatkan ekosistem media yang kini menghadapi tantangan bisnis.
“Ekosistem media sedang tidak baik-baik saja. Melalui PSO, kita ingin jurnalistik tetap menjadi rujukan bagi publik untuk mendapatkan informasi yang sehat. Komdigi siap mendukung itu,” ujar Dimas.
Menurutnya, anggaran PSO terus mengalami penajaman dan peningkatan bertahap dari tahun ke tahun. Termasuk dalam hal pengembangan jenis konten dari yang sebelumnya hanya teks, kini merambah infografik, video, artikel opini, hingga format feature. Ke depan, inovasi dapat terus berkembang mengikuti tantangan era digital.
“Kita ingin anggaran negara ini optimal. Tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat, tapi juga memperkuat ekosistem media itu sendiri,” tegasnya.
Terkait kemungkinan perluasan kerja sama ke lebih banyak media, Dimas menyebut prosesnya panjang, namun selalu terbuka untuk masukan. Penguatan mitra, inovasi konten, hingga model diseminasi akan terus dikembangkan berdasarkan hasil evaluasi seperti yang dilakukan di Tarakan.
“Dengan diskusi seperti ini, kita dapat melihat apa yang perlu diperbaiki dan dikembangkan. Terutama agar informasi 3N plus 1N dapat menjangkau lebih luas,” ujarnya. (kn-2)