TANJUNG SELOR – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara mencatat kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada November 2025. IHK tercatat sebesar 107,74, meningkat dari posisi November 2024 sebesar 105,39.
Kondisi ini menunjukkan inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 2,23 persen. Sementara inflasi year-to-date (y-to-d) berada pada angka 1,91 persen dan deflasi month-to-month (m-to-m) sebesar 0,08 persen. Kepala BPS Kaltara Mas’ud Rifai menjelaskan, peningkatan inflasi terutama dipengaruhi oleh kenaikan sejumlah komoditas dari kelompok pengeluaran rumah tangga.
“Kontributor terbesar inflasi y-on-y berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, perumahan, air, listrik, serta bahan bakar rumah tangga. Hingga kelompok kesehatan yang inflasinya mencapai 8,44 persen,” sebutnya, Rabu (3/12).
Berdasarkan data BPS, kelompok kesehatan tercatat menjadi penyumbang inflasi y-on-y tertinggi, yakni 8,44 persen. Disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang naik 2,96 persen. Serta kelompok perumahan dan utilitas rumah tangga yang naik 2,97 persen.
“Sementara itu, beberapa kelompok justru mengalami penurunan indeks. Antara lain kelompok pakaian dan alas kaki yang mengalami deflasi 0,03 persen. Serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang turun 0,09 persen,” terangnya.
BPS mengidentifikasi 10 komoditas utama yang mendorong inflasi y-on-y November 2025 di Kaltara. Di antaranya emas perhiasan, ikan bandeng, tarif air minum, beras, nasi dengan lauk, ayam ras, minyak goreng, hingga ikan layang.
“Sebaliknya, komoditas yang memberi andil deflasi antara lain angkutan udara, cabai rawit, tempe, tahu mentah, bawang putih, hingga sawi hijau,” terangnya.
Untuk inflasi m-to-m, komoditas penyumbang terbesar berasal dari emas perhiasan, angkutan udara, hingga ikan tongkol. Adapun komoditas penyebab deflasi adalah ikan bandeng, beras, cabai rawit, bawang merah, susu bubuk balita, minyak goreng, dan ikan bawal.
Pada inflasi y-on-y, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,95 persen, diikuti kelompok perumahan serta kelompok kesehatan. Sementara kelompok pengeluaran yang memberikan andil deflasi y-on-y berasal dari pakaian dan alas kaki, transportasi, hingga kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan.
Mas’ud menegaskan, dinamika harga ini merupakan cerminan pergerakan komoditas yang sensitif terhadap kondisi musiman dan distribusi daerah. Pemantauan harga akan terus dilakukan sebagai dasar pengambilan kebijakan pemerintah daerah. (kn-2)