TANJUNG SELOR – Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) Kaltara memastikan telah menindaklanjuti isu beras oplosan yang sempat meresahkan masyarakat.
Istilah beras oplosan yang dimaksud bukanlah campuran bahan kimia berbahaya. Melainkan mencampur beras kualitas medium atau di bawahnya dengan kualitas lebih baik, sehingga tampak seperti beras premium.
“Dari sisi kesehatan, beras tersebut aman dikonsumsi selama tidak dicampuri bahan kimia. Tetapi praktik ini merugikan konsumen karena mereka membeli dengan harga premium. Padahal kualitasnya sebenarnya medium,” ujar Kepala Disperindagkop-UKM Kaltara Hasriyani, Minggu (24/8).
Menurut dia, kebutuhan beras di Kaltara sebagian besar masih dipasok dari luar daerah, terutama Sulawesi dan Jawa. Meski ada produksi lokal dari petani di Bulungan maupun daerah lain, jumlahnya belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.
“Mereka (petani) sebagian besar sudah bekerjasama dengan Perusahaan. Sehingga yang masuk ke pasar lokal jumlahnya terbatas. Rata-rata kebutuhan kita tetap didatangkan dari luar,” jelasnya.
Karena itu, menurutnya, perbaikan kualitas dan pengawasan mutu seharusnya dilakukan sejak dari pabrik, produsen, maupun distributor. Di Kaltara sendiri, pihaknya menemukan beberapa merek yang didistribusikan oleh distributor di Bulungan dan Tarakan.
Menindaklanjuti temuan beras oplosan, pihaknya telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah distributor. Dari hasil pengecekan, ditemukan sekitar dua kontainer beras dengan kualitas medium yang dijual dengan harga premium.
“Kami meminta kepada distributor agar harga yang ditawarkan sesuai dengan kualitas berasnya. Kalau kualitasnya medium, maka harga juga harus mengacu ke standar harga medium. Apalagi harga sudah ada ketetapan berdasarkan wilayah regional Kalimantan,” ungkapnya.
Ia memastikan distributor telah menyanggupi untuk menyesuaikan harga, agar tidak merugikan masyarakat. Hasriyani menekankan bahwa solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah ketersediaan dan kualitas beras, dengan menghidupkan kembali sektor pertanian lokal.
“Kalau berbicara kemandirian, tentu kita harus kembali pada semangat swasembada. Dahulu di Bulungan banyak sawah, tapi sekarang banyak yang tidak aktif karena pasar sulit. Ini yang harus dihidupkan lagi agar produk lokal kita bisa memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Dengan langkah tersebut, diharapkan ketergantungan Kaltara terhadap pasokan beras dari luar daerah dapat dikurangi. Sekaligus memberi peluang lebih besar bagi petani lokal untuk berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
“Jika produksi lokal bisa jalan, maka kualitas lebih terjamin dan konsumen pun tidak lagi dirugikan,” tutupnya. (kn-2)