TARAKAN – Sebuah insiden kecelakaan laut terjadi pada Senin (22/9) pagi, menimpa speedboat SB Malinau Express VI yang berlayar dari Malinau menuju Tarakan.
Speedboat yang mengangkut 35 penumpang dan 4 awak buah kapal (ABK) ini tenggelam di perairan sekitar Kota Tidung Pale, Kabupaten Tana Tidung (KTT) setelah diduga menabrak batang kayu besar yang mengapung di sungai.
Berkat kesigapan awak kapal, seluruh penumpang dan barang bawaan berhasil dievakuasi dengan selamat. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Humas Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah Kaltara Franky menjelaskan, berdasarkan keterangan nahkoda, Ali Jamaludin, speedboat berangkat pukul 08.15 WITA. Sekitar 45 menit kemudian, speedboat mengalami benturan keras di bagian buritan yang menyebabkan kebocoran.
“ABK langsung memberi tahu nahkoda, kemudian arahkan speedboat ke tepi sungai untuk evakuasi,” kata Franky.
Seorang penumpang bernama Ajang membenarkan, speedboat sempat mengalami dua kali benturan keras sebelum bocor. Duduk di bagian belakang, Ajang menyadari adanya air masuk setelah diberi tahu oleh seorang anak kecil.
“Anak kecil bilang, ‘Om, ada air masuk!’ Pas saya lihat, lantai speedboat sudah tergenang. Saya langsung teriak ke motoris supaya ke pinggir,” ceritanya.
Air di dalam speedbboat sudah mencapai lutut saat berhasil menepi. Seluruh penumpang segera turun, dan tak lama kemudian, speedboat miring lalu tenggelam dan terbalik. Akibat insiden ini, speedboat mengalami kerusakan pada buritan dan tiga mesinnya terendam.
Meskipun demikian, Franky mengapresiasi tindakan cepat nahkoda dan ABK yang berhasil menyelamatkan seluruh penumpang dan barang-barang. Pihak BPTD berencana melakukan investigasi lebih lanjut dan berkoordinasi dengan operator kapal. Untuk mengevaluasi rute pelayaran, terutama di area yang rawan batang kayu hanyut.
“Kami juga akan mendorong peningkatan SOP kedaruratan serta penyediaan alat keselamatan yang cukup,” tutur Franky.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kaltara Idham Cholid menerangkan, speedboat dengan GT 16 dan nomor lambung 11/65 ini mampu mengangkut hingga 42 penumpang. Pada saat kecelakaan, terdapat 35 penumpang di dalamnya, terdiri atas 33 dewasa dan 2 anak-anak.
“Meskipun awalnya sempat terjadi informasi simpang siur terkait jumlah penumpang. Keseluruhan penumpang dalam keadaan selamat dan telah berhasil dievakuasi,” terangnya.
Kecelakaan ini diduga terjadi akibat speedboat menabrak tunggul yang mengakibatkan kebocoran dan akhirnya karam di perairan Tana Tidung. Kondisi speedboat yang terbalik membuat proses evakuasi menjadi lebih sulit dan masih berlangsung hingga sore hari.
Namun, upaya bersama antara aparat keamanan, tim SAR, keluarga penumpang, dan warga setempat berjalan lancer. Untuk menyelamatkan seluruh penumpang dan melakukan evakuasi terhadap speedboat.
“Para penumpang terlihat tenang dan berkumpul di lokasi setelah kejadian. Sementara pihak berwenang terus melakukan pemeriksaan dan koordinasi. Untuk mengantisipasi hal serupa di masa depan. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, sehingga menjadi kabar lega bagi keluarga dan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, pentingnya memperhatikan keselamatan pelayaran terutama di perairan dengan potensi bahaya seperti tunggul kayu yang tersembunyi. Harus dilakukan upaya meningkatkan prosedur keselamatan, agar penumpang dapat merasa lebih aman saat menggunakan layanan transportasi laut.
Meskipun speedboat mengalami kerusakan berat, keselamatan manusia tetap menjadi prioritas utama dan kini para penumpang yang selamat dapat melanjutkan aktivitas tanpa mengalami cedera serius. (kn-2)