TARAKAN – Gempa berkekuatan 4.8 SR yang mengguncang Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara) pada Rabu (5/11) pukul 18.37 Wita, menyebabkan sejumlah kerusakan material. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam musibah ini.
Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang didampingi tim dari Pemprov dan Kementerian Sosial (Kemensos), langsung meninjau lokasi terdampak pada keesokan harinya.
“Bersyukur bahwa tidak ada korban jiwa dalam kejadian tadi malam,” ujar Gubernur, Kamis (6/11).
Meskipun data masih dihimpun, kerugian material telah dikonfirmasi. Data awal menyebutkan dua rumah termonitor terdampak parah.
“Ada beberapa rumah yang terkena, sebagian rumahnya roboh, tidak roboh semua, hanya sebagian,” terang Zainal.
Pemprov Kaltara memastikan penyaluran bantuan langsung kepada korban gempa. Ia menegaskan bantuan ini untuk pemilik rumah yang terdampak kerusakan ringan maupun berat. Kemensos juga telah hadir untuk mendata dan menyalurkan bantuan.
“Kita langsung kirim ke rekening para korban lebih kurang 10 juta satu rumah,” kata Gubernur.
Gubernur meminta tim di lapangan untuk mendata kerugian secara akurat dan memastikan bantuan segera disalurkan. Kerusakan signifikan hanya terjadi di Tarakan. Gubernur menduga, salah satu penyebab kerusakan adalah konstruksi rumah yang kurang kuat atau sambungan antara dinding dengan struktur lainnya yang tidak memadai.
“Alhamdulillah untuk daerah lain tidak ada yang sampai rubuh rumahnya,” tambahnya.
Meskipun bencana terjadi setelah Apel Kesiapsiagaan Bencana yang dipimpin Kapolda, Gubernur menyatakan Pemprov memiliki dana BTT (Belanja Tidak Terduga) yang siap digunakan. Untuk kegiatan bersifat darurat, termasuk perencanaan simulasi gempa yang akan dikoordinasikan dengan instansi terkait.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan mencatat adanya lima gempa susulan pasca gempa utama. Gempa susulan terjadi dengan kekuatan magnitudo yang lebih kecil, berkisar antara 2.4 SR hingga 2.7 SR, dengan titik koordinat yang sama.
Kepala BMKG Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi menegaskan, guncangan yang terjadi tidak berpotensi tsunami.
“Walaupun yang kita rasakan memang guncangannya cukup besar, namun setelah dianalisiskan, itu 4.8 SR. Nah, kalau 4.8 itu aman, nggak akan terjadi tsunami,” sebutnya.
Khilmi juga mengingatkan masyarakat, hingga saat ini belum ada alat yang bisa memprediksi kapan terjadinya gempa. Ia memaklumi kekhawatiran publik namun menekankan pentingnya respons yang tenang, sesuai SOP, tidak panik, dan tidak menyebarkan berita hoaks.
“Masyarakat harus mewaspadai potensi gempa di Tarakan karena adanya patahan Tarakan di wilayah tersebut,” pungkas Khilmi. (kn-2)