Fenomena Banjir Rob di Tarakan, Bukan Karena Gempa

BANJIR ROB: Wilayah Kelurahan Karang Anyar Pantai tergenang akibat banjir rob sekitar pukul 18.30 WITA, Kamis (6/11).

TARAKAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan memprediksi fenomena banjir rob atau banjir pesisir masih akan terjadi hingga Senin (10/11).

Hal itu disampaikan oleh Prakirawan BMKG Tarakan Ida Bagus Gede Yamuna, saat memberikan penjelasan terkait fenomena pasang air laut yang melanda sejumlah kawasan pesisir di Tarakan sejak beberapa hari terakhir.

Fenomena banjir rob kali ini mulai terjadi pada 5 November 2025, bertepatan dengan fase bulan purnama (full moon) yang dikenal sebagai puncak aktivitas pasang tertinggi. Berdasarkan data pasang surut yang dimiliki BMKG, kondisi tersebut diperkirakan berlangsung hingga 10 November mendatang.

“Kalau dilihat dari data kami, biasanya banjir rob di Tarakan terjadi ketika tinggi permukaan air laut mencapai sekitar 3,3 meter. Ketika melewati angka itu, maka peluang banjir rob semakin besar,” terang Ida Bagus.

Ia menambahkan, puncak pasang pada 5 November terjadi sekitar pukul 18.00 WITA. Sementara untuk 7 November, puncaknya diperkirakan terjadi sekitar pukul 19.00 WITA.

“Air akan surut secara bertahap setiap jamnya, dengan penurunan atau kenaikan permukaan air sekitar 0,3 hingga 0,6 meter per jam,” sebutnya.

Baca Juga  Antisipasi Laka Laut di Momen Lebaran

Fenomena pasang air laut ini, lanjutnya, tidak hanya terjadi di Tarakan. Tetapi juga di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Karena dipengaruhi oleh kondisi gravitasi bulan yang sama.

Menurutnya, banjir rob merupakan fenomena alam akibat kenaikan tinggi muka air laut yang dipicu oleh gaya gravitasi bulan terhadap bumi. Terutama ketika posisi bulan sejajar dengan bumi.

“Ketika posisi bulan sejajar dengan bumi, terjadi gaya tarik yang mempengaruhi aktivitas pasang surut air laut. Itulah yang menyebabkan air laut naik hingga meluap ke pesisir,” jelasnya.

Terkait kabar yang mengaitkan fenomena banjir rob dengan gempa bumi yang terjadi di Tarakan pada 5 November lalu. BMKG menegaskan tidak ada kaitannya sama sekali antara kedua peristiwa tersebut.

“Gempa itu disebabkan oleh aktivitas lempeng di bawah permukaan bumi. Sedangkan banjir rob murni akibat gaya gravitasi bulan. Jadi dua fenomena ini berbeda penyebabnya,” tegas Ida Bagus.

Ia pun mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan waspada, serta tidak mudah percaya pada informasi simpang siur yang beredar.

Baca Juga  Setoran Pajak Kendaraan Lesu

“Kami harap masyarakat hanya mengacu pada informasi resmi dari BMKG. Agar tidak menimbulkan kepanikan,” harapnya.

Sementara itu, BMKG juga memprediksi fenomena La Nina akan mulai berlangsung pada November ini hingga Februari 2026.

Meski dalam kategori lemah, fenomena ini diperkirakan akan membawa dampak nyata berupa peningkatan curah hujan di atas kondisi normal. Khususnya di wilayah Kalimantan Utara (Kaltara) dan Kabupaten Bulungan.

Forecaster BMKG Tanjung Harapan Cristianto Sihombing menjelaskan, La Nina merupakan fase pendinginan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang menyebabkan peningkatan suplai angin basah ke wilayah Indonesia.

“La Nina lemah diprediksi mulai November 2025 hingga Februari 2026. Dampaknya, curah hujan di Bulungan dan Kaltara akan meningkat di atas normal. Sehingga cuaca akan terasa lebih basah dari biasanya,” ujarnya, Jumat (7/11).

Puncak musim hujan di wilayah Kaltara diperkirakan terjadi pada November hingga Desember 2025. Meski intensitas La Nina tergolong lemah, masyarakat tetap diminta untuk waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Seperti banjir dan tanah longsor, terutama di daerah dengan topografi curam.

Baca Juga  Nelayan Keluhkan Aktivitas Kapal Industri

“Peningkatan curah hujan akibat La Nina bisa memicu banjir bandang atau longsor di beberapa wilayah. Karena itu masyarakat perlu waspada dan memperhatikan kondisi lingkungan sekitar,” terangnya.

BMKG juga mencatat, potensi hujan deras di wilayah Kalimantan Utara umumnya terjadi pada malam hingga dini hari.

“Dari data historis, hujan intensitas tinggi sering turun di malam hari hingga menjelang pagi. Ini juga perlu diantisipasi, terutama bagi warga di daerah rendah dan sekitar bantaran sungai,” kata dia.

Ia menjelaskan, Kalimantan Utara memiliki dua musim utama, yaitu musim kemarau dan hujan. Namun, karena karakter iklim tropis yang lembap, potensi hujan tetap bisa terjadi bahkan di masa peralihan.

“Sekarang kita memasuki musim hujan, jadi peluang hujan tinggi masih akan terus berlangsung hingga awal tahun depan,” jelasnya.

BMKG mengimbau masyarakat agar selalu memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG. Serta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana yang dapat muncul akibat curah hujan tinggi selama periode La Nina berlangsung. (kn-2)

Bagikan:

Berita Terkini