Cuaca Kaltara Dipengaruhi Siklon Tropis

BANJIR ROB: Air pasang menggenangi beberapa ruas jalan di Tarakan belum lama ini.

TARAKAN – Warga Kalimantan Utara diminta waspada terhadap potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang dalam beberapa hari ke depan.

BMKG Tarakan menyebut, kondisi ini dipicu oleh siklon tropis Fung Wong yang masih aktif di wilayah Filipina bagian timur. Forecaster BMKG Tarakan Muhammad Hatta Rachim menjelaskan, saat ini wilayah Kaltara sedang berada di bawah pengaruh dua sistem cuaca utama yang menyebabkan peningkatan curah hujan dan kecepatan angin.

“Ada dua faktor yang memengaruhi kondisi hujan di wilayah kita. Pertama, adanya siklon tropis Fung Wong yang saat ini berada di Laut Filipina timur dan bergerak ke arah barat laut menuju Luzon. Kedua, adanya konvergensi udara atau pertemuan massa udara yang mendukung terbentuknya awan-awan hujan,” terang Hatta, Rabu (12/11).

Baca Juga  Produk UMKM Sudah Penuhi Standar Ekspor

Meskipun posisi siklon tersebut sudah menjauh ke wilayah utara. Dampaknya masih terasa di sejumlah daerah, termasuk Kalimantan Utara. Siklon tropis Fung Wong menimbulkan efek tidak langsung berupa peningkatan pertumbuhan awan hujan serta kecepatan angin yang mencapai sekitar 25 knot di beberapa wilayah Indonesia bagian utara, seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

“Siklon ini masih memberikan pengaruh terhadap pola sirkulasi angin di sekitar Kalimantan Utara. Dampaknya, pertumbuhan awan hujan meningkat dan disertai potensi angin kencang serta petir,” lanjutnya.

Menurut Hatta, hujan lebat yang terjadi biasanya disertai fenomena petir dan hembusan angin kuat karena diawali dengan pembentukan awan Cumulonimbus (CB).

Baca Juga  Anggaran SOA Tetap Dialokasikan di APBD Murni

“Awan CB itu biasanya membawa satu paket cuaca ekstrem. Mulai dari hujan deras, kilat, hingga angin kencang. Jadi kalau sudah ada awan CB, potensi hujan lebat hampir pasti muncul,” jelasnya.

Ia menambahkan, cuaca ekstrem di wilayah Kalimantan Utara lebih sering terjadi pada malam hari. Kondisi ini disebabkan oleh perubahan arah angin di wilayah kepulauan yang pada malam hari cenderung bergerak dari barat. Selain itu, energi panas yang tersimpan di permukaan laut pada siang hari ikut mendukung pembentukan awan hujan ketika malam tiba.

“Untuk wilayah kepulauan seperti Tarakan, saat siang hari energinya tersimpan di laut. Nah, energi itu dilepaskan pada sore hingga malam hari dan memunculkan pertumbuhan awan hujan,” ujarnya.

Baca Juga  SiAP Unggul 26.696 Suara

Selain di Kaltara, BMKG juga mengeluarkan peringatan potensi cuaca ekstrem di sebagian besar wilayah Indonesia pada periode 10–16 November 2025. Potensi hujan sedang hingga lebat diprakirakan terjadi di sejumlah provinsi mulai dari Aceh, Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Maluku dan Papua.

Hatta menambahkan, meningkatnya curah hujan pada periode ini juga berkaitan dengan pola iklim tahunan. Menurutnya, bulan November hingga Desember merupakan fase puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

“Untuk Tarakan, sebenarnya punya pola hujan sepanjang tahun. Tapi memang ada periode tertentu, terutama di November dan Desember, di mana curah hujan jauh lebih tinggi dibanding bulan-bulan lain,” pungkasnya. (kn-2)

Bagikan:

Berita Terkini